Siapa sangka, di balik berbagai artikel menarik yang rutin hadir di website sekolah, ada peran aktif seorang siswa bernama Siti Nurzaahirah. Dengan semangat menulis dan rasa ingin tahu yang tinggi, Siti Nurzaahirah menjadi kontributor tetap yang konsisten menghadirkan informasi dan ulasan bermakna bagi pembaca. Pada artikel di bawah ini, Zaahirah mengajak kita untuk menyelami dunia literasi dengan membedah sebuah karya sastra berjudul Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer karya Pramoedya Ananta Toer, melalui sudut pandang kritis dan reflektif khas jurnalis muda.

Sesekali selain membaca novel, saya juga membaca buku non-fiksi terutama bertema sejarah. Salah satu nya adalah buku Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer karya Pramoedya Ananta Toer catatan tentang para perawan perempuan Indonesia yang menjadi korban eksploitasi seksual oleh balatentara Jepang pada perang Dunia II. Saya sangat marah dan sedih membacanya, bayangkan remaja seumuran kita yang mempunyai mimpi besar dan ingin menjadi gadis gadis pintar serta berilmu tapi mereka ditipu lalu hidup dalam penderitaan panjang.

Tahun 1942-1943 ribuan remaja perempuan dari wilayah jajahan Jepang, termasuk Indonesia, direkrut secara paksa atau ditipu dengan janji pendidikan dan pekerjaan, lalu dipisahkan dari keluarga mereka. Mereka dikurung di kapal, barak militer, atau rumah bordil dan dipaksa melayani tentara Jepang setiap hari. Dan yang lebih parah, pristiwa ini dilakukan secara sistematis dan teroganisir. Sebagian korban merupakan remaja berusia belasan tahun, banyak dari mereka meninggal akibat kekerasan brutal serta penderitaan fisik dan psikologis yang berkepanjangan. (Wikipedia, Jugun Ianfu)

"Sulitnya hubungan laut dan udara menyebabkan balatentara Dai Nippon tak lagi bisa mendatangkan wanita penghibur dari Jepang, China dan Korea. Sebagai gantinya, para gadis Indonesia dikirimkan ke garis terdepan sebagai penghibur."

Salah satu kutipan dari buku tersebut :

"Di sini para gadis remaja tanpa pengalaman itu diserahkan pada keganasan serdadu-serdadu Dai Nippon. Tak seorang pun yang dapat menolong mereka. Di sini pula mereka kehilangan segala-galanya: kehormatan, cita cita, hargadiri, hubungan dengan dunia luar, peradaban, dan kebudayaan-suatu perampasan total."

"Mereka membayangkan diri akan pulang sebagai manusia yang lebih berilmu dan berpengetahuan. Dan oleh Jepang mereka dipaksa untuk memasuki kekejian, kemesuman, dan kehinaan."

Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada tahun 1945, Banyak korban yang ditinggalkan begitu saja dan diasingkan di pulau Buru. Sebagian tidak dapat kembali ke keluarga karena stigma sosial yang melekat.

"Disini masa mudanya hilang untuk selama lamanya, mengalami kemerosotan peradaban dan kebudayaan."

"Beban morallah yang menghalanginya berhubungan langsung dengan keluarga."

Sementara yang lain hidup dalam keterasingan dan rasa malu yang mendalam. Dalam kondisi tersebut, tidak sedikit yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri.

Kalau dipikir pikir, kita yang sekarang bisa bersekolah, bermimpi menjadi apa pun dan hidup dengan bebas adalah sebuah keberuntungan.

Melalui konsistensinya sebagai kontributor tetap, Siti Nurzahirah membuktikan bahwa menulis bukan sekadar menuangkan kata, tetapi juga sarana belajar berpikir kritis dan berbagi makna. Semoga ulasan buku yang disajikan dapat menambah wawasan pembaca serta menginspirasi siswa lain untuk berani berkarya, membaca, dan menyampaikan gagasan melalui tulisan. Karena dari sekolah, suara-suara muda yang cerdas dan peduli literasi terus tumbuh.